
<p><iframe loading="lazy" src="https://www.youtube.com/embed/kdbRflSmjtc?list=PLUYZIGi0rAXATpa411pxbbtSBWT7vC902" width="auto" height="auto" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"><span data-mce-type="bookmark" style="display: inline-block; width: 0px; overflow: hidden; line-height: 0;" class="mce_SELRES_start">﻿</span></iframe></p>
<p> </p>
<p>Hadits kali ini menjelaskan tentang hukum kencing di air tergenang dan mandi di air tergenang ketika dalam keadaan junub.</p>
<p> </p>
<h4 style="text-align: center;">Hadits #05 dari Umdatul Ahkam karya Syaikh ‘Abdul Ghani Al-Maqdisi</h4>
<h4 dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ؛ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ:</h4>
<h4 dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">“لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي المَاءِ الدَّائِمِ؛ الَّذِي لاَ يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيْهِ.</h4>
<h4 dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;"> وَلِمُسْلِمٍ: “لاَ يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي المَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ</h4>
<p> </p>
<p style="text-align: center;">Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yaitu air yang tidak mengalir kemudian ia mandi di dalamnya</em>.” (HR. Bukhari, no. 239 dan Muslim, no. 282).</p>
<p style="text-align: center;">Dalam riwayat Muslim disebutkan, “<em>Jangan salah seorang dari kalian mandi di air yang tergenang dalam keadaan junub</em>.” (HR. Muslim, no. 283).</p>
<p><strong> </strong></p>
<h3 style="text-align: center;">Faedah Hadits</h3>
<p> </p>
<ol>
<li>Hadits ini menunjukkan larangan kencing di air yang tergenang karena dapat menyebarkan najis dan menimbulkan penyakit. Boleh jadi pula yang memanfaatkan air tersebut adalah yang kencing itu sendiri.</li>
<li>Larangan kencing di air yang tergenang adalah larangan haram jika air tersebut memudaratkan yang lain. Jika tidak digunakan, maka hukumnya makruh.</li>
<li>Buang air besar di air yang tergenang hukumnya sama dengan kencing, bahkan buang air besar hukumnya lebih parah.</li>
<li>Boleh kencing di air yang mengalir dengan catatan bahwa air tersebut tidak memudaratkan orang lain.</li>
<li>Dilarang mandi junub di air yang tergenang. Larangan ini dihukumi haram jika memudaratkan yang lain. Namun dihukumi makruh jika tidak mengganggu yang lain.</li>
<li>Boleh mandi junub di air yang mengalir.</li>
<li>Hadits di atas menunjukkan bagaimanakah syariat Islam begitu peduli pada kebersihan dan menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan mudarat.</li>
<li>Larangan hadits di atas berlaku pada air yang sedikit maupun banyak. Namun air yang begitu banyak yang tidak mungkin terpengaruh dengan air kencing (seperti air laut) tidak termasuk dalam larangan.</li>
</ol>
<p> </p>
<h4>Referensi:</h4>
<p><em>Tanbih Al-Afham bi Syarh ‘Umdah Al-Ahkam</em>. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Penerbit Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah.</p>
<p>—</p>
<p>Diselesaikan di Makkah, 10 Shafar 1440 H</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://rumaysho.com/" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Rumaysho.Com</a></p>
 