
<p><iframe loading="lazy" width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1250511421&amp;color=2f4468&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bercerita mengenai <a title="uwais al-qani" href="http://kisahmuslim.com/uwais-al-qani" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong>Uwais al-Qarni</strong></a> tanpa pernah melihatnya. Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Dia seorang penduduk Yaman, daerah Qarn, dan dari kabilah Murad. Ayahnya telah meninggal. Dia hidup bersama ibunya dan dia berbakti kepadanya. Dia pernah terkena penyakit kusta. Dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu dia diberi kesembuhan, tetapi masih ada bekas sebesar dirham di kedua lengannya. Sungguh, dia adalah pemimpin para tabi’in</em>.”</p>
<p>Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda kepada Umar bin al-Khaththab <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, “Jika kamu bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampun (kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>) untukmu, maka lakukanlah!”</p>
<p>Ketika Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> telah menjadi Amirul Mukminin, dia bertanya kepada para jamaah haji dari Yaman di Baitullah pada musim haji, “Apakah di antara warga kalian ada yang bernama <em>Uwais al-Qarni</em>?” “Ada,” jawab mereka.</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> melanjutkan, “Bagaimana keadaannya ketika kalian meninggalkannya?”</p>
<p>Mereka menjawab tanpa mengetahui derajat Uwais, “Kami meninggalkannya dalam keadaan miskin harta benda dan pakaiannya usang.”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata kepada mereka, “Celakalah kalian. Sungguh, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bercerita tentangnya. Kalau dia bisa memohonkan ampun untuk kalian, lakukanlah!”</p>
<p>Dan setiap tahun Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> selalu menanti Uwais. Dan kebetulan suatu kali dia datang bersama jemaah haji dari Yaman, lalu Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menemuinya. Dia hendak memastikannya terlebih dahulu, makanya dia bertanya, “Siapa namamu?”</p>
<p>“Uwais,” jawabnya.</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> melanjutkan, “Di Yaman daerah mana?’</p>
<p>Dia menjawab, “Dari Qarn.”</p>
<p>“Tepatnya dari kabilah mana?” Tanya Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>Dia menjawab, “Dari kabilah Murad.”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bertanya lagi, “Bagaimana ayahmu?”</p>
<p>“Ayahku telah meninggal dunia. Saya hidup bersama ibuku,” jawabnya.</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> melanjutkan, “Bagaimana keadaanmu bersama ibumu?’</p>
<p>Uwais berkata, “Saya berharap dapat berbakti kepadanya.”</p>
<p>“Apakah engkau pernah sakit sebelumnya?” lanjut Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>.</p>
<p>“Iya. Saya pernah terkena penyakit kusta, lalu saya berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> sehingga saya diberi kesembuhan.”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bertanya lagi, “Apakah masih ada bekas dari penyakit tersebut?”</p>
<p>Dia menjawab, “Iya. Di lenganku masih ada bekas sebesar dirham.” Dia memperlihatkan lengannya kepada Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ketika Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> melihat hal tersebut, maka dia langsung memeluknya seraya berkata, “Engkaulah orang yang diceritakan oleh Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Mohonkanlah ampun kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> untukku!”</p>
<p>Dia berkata, “Masa saya memohonkan ampun untukmu wahai Amirul Mukminin?”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> menjawab, “Iya.”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> meminta dengan terus mendesak kepadanya sehingga Uwais memohonkan ampun untuknya.</p>
<p>Selanjutnya Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> bertanya kepadanya mengenai ke mana arah tujuannya setelah musim haji. Dia menjawab, “Saya akan pergi ke kabilah Murad dari penduduk Yaman ke Irak.”</p>
<p>Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata, “Saya akan kirim surat ke walikota Irak mengenai kamu?”</p>
<p>Uwais berkata, “Saya bersumpah kepada Anda wahai Amriul Mukminin agar engkau tidak melakukannya. Biarkanlah saya berjalan di tengah lalu lalang banyak orang tanpa dipedulikan orang.”</p>
<p>Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1</p>
<p><strong>Artikel <a title="cerita kisah cinta penggugah jiwa" href="http://kisahmuslim.com/" target="_blank" rel="noopener noreferrer">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
 