
<p><em>Bismillah walhamdulillah wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah, amma ba’du</em></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Definisi Wakaf</strong></span></h2>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Makna </strong><strong>b</strong><strong>ahasa</strong></span></h3>
<p>Ahli bahasa dan ulama <em>rahimahumullah</em> bersepakat bahwa kata <em>“waqfun”</em> (wakaf) secara bahasa merupakan kata benda dengan mengandung makna <em>ismi maf’ul</em> (objek), yaitu <em>“mauquf”</em> artinya sesuatu yang diwakafkan.</p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Makna istilah syar’i</strong></span></h3>
<p>Kata “wakaf” menurut mereka secara etimologi bermakna “menahan” dan “mencegah”.</p>
<p>Al-Munawi berkata dalam <em>At-Tauqif ‘ala</em> <em>Muhimmatit Ta’arif</em><em>,</em></p>
<p><em>“</em><em>Al-Waqfu</em> secara bahasa bermakna menahan (mencegah). Dan secara <em>s</em><em>yar’I</em> bermakna,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>حبس المملوك وتسبيل منفعته مع بقاء عينه ودوام الانتفاع به</strong></span></p>
<p>“Menahan/mencegah aset kepemilikan dan membuka pemanfaatannnya (di jalan Allah), disertai tetapnya harta tersebut dan bisa dimanfaatkan secara terus menerus.”  <strong>[1]</strong></p>
<p>Tentunya wakaf ini dilakukan dalam rangka beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.</p>
<p>Dari penjelasan ini tampaklah hubungan antara makna bahasa dengan makna <em>s</em><em>yar’i</em>, bahwa wakaf adalah menahan aset yang diwakafkan dan mencegah aset tersebut dari dimiliki, diwariskan, dijual, diberikan, dan berlaku hukum selainnya dari hukum-hukum yang terkait dengannya. <strong>[2]</strong></p>
<p>Seseorang yang merdeka, memiliki harta yang akan diwakafkan, berakal sehat, baligh, dan <em>rasyid</em>  (baik dalam membelanjakan hartanya, tidak boros) <strong>[3], </strong>apabila dia dengan sukarela telah mengucapkan ucapan wakaf atau melakukan sesuatu yang menunjukkan tindakan wakaf, maka berarti wakaf telah sah. Dan juga berlaku hukum-hukum wakaf dan hal itu tidak membutuhkan izin Hakim dan pernyataan menerima dari pihak yang berhak menerima manfaat wakaf (<em>mauquf ‘alaih</em>).</p>
<p>Apabila telah sah wakaf tersebut, maka pada obyek wakaf tersebut tidak boleh dilakukan segala bentuk muamalah yang dapat menghilangkan status wakafnya.</p>
<p>Wajib bagi <em>waqif</em> (orang yang berwakaf) untuk menunjuk <em>nazhir</em> (pengurus wakaf) agar wakaf tidak terlantar atau musnah. Namun apabila <em>w</em><em>aqif</em> tidak menunjuk <em>nazhir</em>, maka kepengurusan wakaf diserahkan kepada <em>mauquf</em> <em>‘alaih</em><em>,</em> jika <em>mauquf</em> <em>‘alaih</em> adalah orang atau golongan tertentu (<em>mu’ayyan</em>). <strong>[4]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/52996-enggan-sedekah-adalah-ciri-kemunafikan.html" data-darkreader-inline-color="">Enggan Sedekah Adalah Ciri Kemunafikan</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Rukun Wakaf</strong></span></h2>
<p>Ulama <em>rahimahumullah</em> menjelaskan bahwa rukun wakaf itu ada empat<strong> [5],</strong> yaitu:</p>
<p><strong>Rukun </strong><strong>p</strong><strong>ertama</strong><strong>, </strong><em>w</em><em>aqif</em> (orang yang berwakaf), yaitu seseorang yang merdeka, memiliki harta yang diwakafkan, berakal sehat, baligh, dan <em>rasyid</em> (baik dalam membelanjakan hartanya), dan sukarela (tidak dipaksa) dalam berwakaf.</p>
<p><strong>Rukun </strong><strong>k</strong><strong>edua</strong><strong>, </strong>obyek yang yang diwakafkan (<em>mauquf</em>), yaitu harta tertentu (<em>‘ain</em>) yang mubah pemanfaatannya, dimiliki oleh <em>waqif</em> tatkala mewakafkan, diketahui dengan jelas ketika diwakafkan, pemanfaatannya tahan lama, tidak boleh dimiliki, tidak boleh diwariskan, tidak boleh dijual, dan tidak boleh diberikan, karena kepemilikannya telah kembali kepada Allah. <strong>[6]</strong></p>
<p><strong> </strong><strong>Rukun </strong><strong>k</strong><strong>etiga</strong><strong>, </strong>pihak yang berhak menerima manfaat wakaf (<em>mauquf ‘alaih</em>), yaitu:</p>
<ul>
<li>
<em>M</em><em>u’ayyan</em> (orang tertentu, seorang atau lebih, yaitu sekolompok tertentu yang masih bisa dibatasi). Contoh: untuk kemaslahatan anak-anak <em>waqif</em> dan kerabatnya <strong>[7]</strong>. Dan ini jenis wakafnya disebut wakaf <em>ahli</em><em> (</em><em>dzurri</em><em>)</em> <strong>[8]</strong>.</li>
<li>
<em>G</em><em>hairu mu’ayyan</em> (untuk kemaslahatan umum yang tidak bisa dibatasi). Contoh <em>mushaf</em> Al-Qur’an Al-Karim untuk kaum muslimin, ulama, para ustadz, masjid, rumah sakit, sumur, sekolah, orang-orang faqir miskin <strong>[9]</strong>. Dan ini jenis wakafnya disebut <em>wakaf khairi</em>.</li>
</ul>
<p><strong>Rukun </strong><strong>k</strong><strong>eempat</strong><strong>, </strong><em>s</em><em>ighot</em> (ungkapan akad wakaf), yaitu sebuah ucapan atau perbuatan (yang sesuai dengan adat setempat), dengan itu <em>waqif</em> mewajibkan akad wakaf atas dirinya.</p>
<p>Jumhur ulama menyatakan bahwa sekedar ucapan mewakafkan sesuatu, atau tindakan mencegah suatu aset dari dimiliki yang diiringi dengan niat wakaf, maka ini menyebabkan wakaf berlaku seketika itu juga.</p>
<p>Sebagian ulama ada yang menambahkan rukun kelima, yaitu:</p>
<p><strong>Rukun </strong><strong>k</strong><strong>elima</strong><strong>, </strong><em>n</em><em>azhir</em> (pengurus wakaf), disyaratkan nazhir seorang yang amanah, jujur, dan memiliki pengalaman serta kemampuan mengurus wakaf dan kemaslahatannya <strong>[10]</strong>.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/43142-sesajen-sedekah-gunung-dan-laut-bukan-ajaran-islam.html" data-darkreader-inline-color="">Sesajen, Sedekah Gunung dan Laut Bukan Ajaran Islam</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Hikmah Wakaf</strong></span></h2>
<p>Syariat wakaf mengandung hikmah yang demikian besar. Di antaranya adalah memperpanjang masa kebaikan, memperbanyak pahala, serta jaminan sosial bagi fakir miskin, ulama, dan para ustadz. Juga mempererat tali persaudaraan Islam antara orang kaya dan fakir miskin, faktor yang menyebabkan kaum muslimin saling berlomba dalam membuat program wakaf, serta menampakkan keindahan agama Islam. Hal ini karena wakaf adalah kekhususan Islam dan tidak ada di ajaran agama lainnya <strong>[11]</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Disyariatkannya Wakaf dan Hukum Wakaf</strong></span></h2>
<p>Hukum wakaf menurut jumhur ulama adalah sunnah <strong>[12]</strong>.</p>
<p>Seluruh dalil yang menunjukkan kepada keutamaan dan dorongan bersedekah, maka otomatis berkonsekuensi menunjukkan keutamaan wakaf. Karena wakaf termasuk bentuk sedekah yang paling bisa diharapkan pahala besarnya dan termasuk sedekah paling bermanfaat <strong>[13]</strong>.</p>
<p>Di antara dalil-dalil tersebut adalah:</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/42535-lebih-baik-tidak-minta-didoakan-ketika-memberi-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Lebih Baik Tidak Minta Didoakan ketika Memberi Sedekah</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dalil wakaf dari Al-Qur’an Al-Karim</strong></span></h3>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em><em>,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ</strong></span></p>
<p>“<em>Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan</em><em>,</em><em> maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.</em><em>”</em> <strong>(QS. Ali-‘Imran: 92)</strong></p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em><em>,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ</strong></span></p>
<p>“<em>Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.</em>” <strong>(QS. </strong><strong>Al-Baqarah: 280</strong><strong>)</strong></p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em><em>,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</strong></span></p>
<p><em>“</em><em>Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan me</em><em>l</em><em>ipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (r</em><em>i</em><em>zki) dan kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.</em>” <strong>(QS. </strong><strong>Al-Baqarah: 245</strong><strong>)</strong></p>
<p>Firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;"><strong>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ</strong></span></p>
<p><em>“</em><em>Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian.</em><em>”</em> <strong>(QS. </strong><strong>Al-Baqarah: 267</strong><strong>)</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35035-sombong-kepada-orang-sombong-adalah-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Sombong Kepada Orang Sombong Adalah Sedekah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/33913-berhubungan-badan-suami-istri-itu-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berhubungan Badan Suami-Istri Itu Sedekah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p>Baca artikel selanjutnya di <a href="https://muslim.or.id/59050-wakaf-amalan-para-sahabat-radhiyallahuanhum-bag-2.html">Wakaf: Amalan Para Sahabat radhiyallahu’anhum (Bag. 2)</a></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" data-darkreader-inline-color=""> Ustadz Sa’id Abu Ukasyah</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan Kaki:</strong></p>
<p><strong>[1] </strong><a href="http://cp.alukah.net/sharia/0/71270/">http://cp.alukah.net/sharia/0/71270/</a></p>
<p><strong>[2]</strong> <a href="http://cp.alukah.net/sharia/0/71270/">http://cp.alukah.net/sharia/0/71270/</a></p>
<p><strong>[3]</strong> <a href="http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0dExyUH">http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0dExyUH</a></p>
<p><strong>[4]</strong> Mausu’ah Al-Fiqhi Al-Islami (shorturl.at/mprtK)</p>
<p><strong>[5]</strong> <a href="https://www.alukah.net/sharia/0/71878/#ixzz6Zb2skNyE">https://www.alukah.net/sharia/0/71878/#ixzz6Zb2skNyE</a>  dan http://www.awqaf.org.kw/AR/Pages/WaqfRegulations.aspx</p>
<p><strong>[6]</strong> <a href="http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0cONrUn">http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0cONrUn</a></p>
<p><strong>[7]</strong> http://www.awqaf.org.kw/AR/Pages/WaqfRegulations.aspx</p>
<p><strong>[8]</strong> http://www.awqaf.org.kw/AR/Pages/WaqfTerminology.aspx</p>
<p><strong>[9]</strong> Al-Muqni’ wasy Syarhul Kabir wal Inshaf, hal. 458 (shorturl.at/gmnP4)</p>
<p><strong>[10]</strong> <a href="https://www.alukah.net/sharia/0/71878/#ixzz6Zb2skNyE">https://www.alukah.net/sharia/0/71878/#ixzz6Zb2skNyE</a></p>
<p><strong>[11]</strong> http://www.awqaf.org.kw/AR/Pages/WaqfRegulations.aspx dan <a href="http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0dExyUH">http://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0dExyUH</a></p>
<p><strong>[12]</strong> <a href="https://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0cONrUn">https://www.alukah.net/publications_competitions/0/5273/#ixzz6Z0cONrUn</a></p>
<p><strong>[13]</strong> <a href="http://almoslim.net/elmy/286349">http://almoslim.net/elmy/286349</a></p>
<p> </p>
 