
<p><strong>Wanita  Mengkonsumsi Obat Pencegah Haidh Agar Dapat Berpuasa Sebulan Penuh</strong><br>
Haidh merupakan suatu ketentuan  dari Allah <em>ta’ala</em> untuk seluruh kaum wanita, sebagaimana sabda  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> kepada ‘Aisyah <em>radhiyallahu  ‘anha</em>,</p>
<p>إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ .</p>
<p><em>“(Haidh) ini adalah sesuatu  yang telah Allah tetapkan bagi kaum wanita.”</em> [Hadits shahih. Riwayat  Bukhari (no. 294) dan Muslim (no. 1211)]</p>
<p>Seorang wanita tidak dianjurkan  untuk mengkonsumsi obat pencegah  haidh pada bulan Ramadhan karena haidh adalah  suatu ketetapan Allah  bagi kaum wanita. Demikian pula para wanita pada zaman  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak pernah memberatkan diri  mereka dengan melakukan hal tersebut.  Hendaklah kaum wanita itu bersabar ketika  mendapatkan haidh pada bulan  Ramadhan dan janganlah menjerumuskan dirinya ke  dalam perkara yang  membahayakan. [Lihat fatwa Syaikh Utsaimin mengenai masalah  ini dalam  kitab <em>52 Su’alan ‘an Ahkaamil Haidh</em>, hal 19; Durus wa Fataawa  al-Haram al-Makki, juz III hal. 273-274; dan <em>Fatwa-Fatwa Tentang Wanita</em> (I/273-274)]</p>
<p>Namun, apabila penggunaan obat  pencegah haidh itu tidak berdampak  negatif terhadap diri dan kesehatan wanita  tersebut, maka hal tersebut  dibolehkan, dan puasanya sah selama wanita tersebut  benar-benar tidak  mengeluarkan haidh karena obat tadi. Akan tetapi, jika wanita  tersebut  ragu apakah haidhnya telah berhenti karena obat tadi, maka wanita   tersebut dihukumi sama dengan wanita haidh, yaitu wajib berbuka pada  masa-masa  haidhnya dan mengqadha seluruh hari yang ditinggalkan karena  haidhnya. [Lihat <em>Jaami’  Ahkaamin Nisaa’</em> (II/392); <em>Ensiklopedi Fiqh Wanita</em> (I/462) dan <em>Majalah  al-Buhuts al-Islamiyyah</em>, Edisi 22 hal. 62]</p>
<p>***<br>
artikel <a href="../">muslimah.or.id</a> (Bagian ke 2 dari pembahasan: Problema Muslimah di Bulan Ramadhan)<br>
Penyusun: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad<br>
Murajaah: Ust Muhammad Abduh Tausikal</p>
<p>Lihat pembahasan  bagian 1: Belum Mengqadha Hutang Puasa Hingga Datang Ramadhan Berikutnya</p>
<p><strong>Maraji’:</strong></p>
<ul>
<li>
<em>Al-Adzkar an-Nawawi</em>, Imam an-Nawawi;       takhrij, tahqiq dan ta’liq oleh Syaikh Amir bin Ali Yasin, cet. Daar Ibn       Khuzaimah</li>
<li>
<em>Ahkaamul Janaaiz wa       Bida’uha</em>,       Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. Maktabah al-Ma’arif</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Adab       Islam Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah</em>, ‘Abdul ‘Aziz bin Fathi as-Sayyid       Nada, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Ensiklopedi Fiqh       Wanita</em>,       Abu Malik Kamal bin as-Sayyid Salim, cet. Pustaka Ibnu Katsir</li>
<li>
<em>Fatwa-Fatwa Tentang       Wanita</em>,       Lajnah ad-Daimah lil Ifta’, cet. Darul Haq</li>
<li>
<em>Meneladani Shaum       Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>,  Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali       dan Syaikh ‘Ali bin Hasan bin  ‘Ali al-Halabi al-Atsari, cet. Pustaka Imam       asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Syarah Riyadhush       Shalihin</em>,       Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Pustaka Imam asy-Syafi’i</li>
<li>
<em>Tamamul Minnah fii       Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah</em>, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani,       cet. Daar ar-Raayah</li>
<li>
<em>Tiga Hukum       Perempuan Haidh dan Junub</em>, Abdul Hakim bin Amir Abdat, cet. Darul       Qolam</li>
</ul>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 