
<p>Di antara yang masih dibolehkan bagi wanita saat berpuasa adalah mencium dan mencumbu suami saat puasa selama tidak keluar mani dan bukan melakukan jima’ (hubungan badan).</p>
<p>3- Mencium dan mencumbu suami, selain melakukan jima’</p>
<p>Imam Nawawi <em>rahimahullah </em>mengatakan, “Tidak ada perselisihan di antara para ulama bahwa bercumbu atau mencium istri tidak membatalkan puasa selama tidak keluar mani”. (Syarh Shahih Muslim, 7: 215)</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ ، وَهُوَ صَائِمٌ ، وَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لإِرْبِهِ .</p>
<p>“<em>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencium dan mencumbu istrinya sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan berpuasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan demikian karena beliau adalah orang yang paling kuat menahan syahwatnya.</em>” (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)</p>
<p>Dari Jabir bin ‘Abdillah, dari ‘Umar bin Al Khaththab, beliau berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">هَشَشْتُ يَوْما فَقَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ صَنَعْتُ الْيَوْمَ أَمْراً عَظِيماً قَبَّلْتُ وَأَنَا صَائِمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَرَأَيْتَ لَوْ تَمَضْمَضْتَ بِمَاءٍ وَأَنْتَ صَائِمٌ ». قُلْتُ لاَ بَأْسَ بِذَلِكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَفِيمَ »</p>
<p>“Pada suatu hari aku rindu dan hasratku muncul kemudian aku mencium istriku padahal aku sedang berpuasa, maka aku mendatangi Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan aku berkata, “<em>Hari ini aku melakukan suatu kesalahan besar, aku telah mencium istriku padahal sedang berpuasa</em>” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bertanya, “<em>Bagaimana pendapatmu jika kamu berpuasa kemudian berkumur-kumur?</em>” Aku menjawab, “<em>Seperti itu tidak mengapa</em>.” Kemudian Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda, “<em>Lalu apa masalahnya?</em>” (HR. Ahmad 1: 21. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)</p>
<p>Masyruq pernah bertanya pada ‘Aisyah,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Traditional Arabic; font-size: 23px; text-align: center;">مَا يَحِلُّ لِلرَّجُلِ مِنْ اِمْرَأَته صَائِمًا ؟ قَالَتْ كُلُّ شَيْء إِلَّا الْجِمَاعَ</p>
<p>“<em>Apa yang dibolehkan bagi seseorang terhadap istrinya ketika puasa? ‘Aisyah menjawab, ‘Segala sesuatu selain jima’ (bersetubuh)’.</em>” (Riwayat ini disebutkan dalam Fathul Bari (4/149), dikeluarkan oleh ‘Abdur Rozaq dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Catatan: Jika seseorang mencumbu istrinya, lantas yang keluar adalah madzi, puasa tidaklah batal. Al Baijurimenyebutkan bahwa keluarnya madzi tidak membatalkan puasa walau karena bercumbu. (Hasyiyah Al Baijuri, 1: 560)</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>—</p>
<p>Disusun di <a href="http://darushsholihin.com">Panggang, Gunungkidul</a>, 6 Sya’ban 1435 H</p>
<p>Penulis: <a href="http://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslimah.or.id/">Muslimah.Or.Id</a></p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 