
<p><iframe loading="lazy" width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" allow="autoplay" src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/1291271101&amp;color=2f4468&amp;hide_related=true&amp;show_artwork=false&amp;show_comments=false&amp;show_teaser=false&amp;show_user=false"></iframe></p>
<p>Zainal Abidin adalah seseorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh, kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi, kami tidak pernah melihat kamu makan bersama ibumu dalam satu piring?” Dia menjawab,<!--more--> “Saya khawatir mendahului makan makanan yang hendak dimakan oleh ibu saya. karena menurut saya itu termasuk tindakan durhaka kepadanya.” (Lihat kitab <em>Muhadharat Al-Adiba’ </em>hlm. 327 dan kitab <em>Wafayat Al-A’yan</em> (III/268).</p>
<p>Sumber: <em>Kisah-kisah Teladan Bakti Anak Kepada Ibu Bapak</em>, karya Ibrahim bin Abdullah Musa Al-Hazimi, Media Hidayah (Dzulhijjah 1425/Maret 2004)<br>
Artikel <a href="www.KisahMuslim.com" target="_self" rel="noopener noreferrer">www.KisahMuslim.com</a></p>
 